-->
cerita  001  (The God Must Be Crazy)
Bookmark

cerita 001 (The God Must Be Crazy)

Baca cerita 001 (The God Must Be Crazy)

Baca Komik cerita 001 (The God Must Be Crazy) bahasa Indonesia lengkap dan baru di ( ^_^ ). Kami menyediakan Komik, Manhua, Manhwa, dan Novel yang dapat kalian baca online gratis.

Read cerita 001 (The God Must Be Crazy)

Apa bahasa Inggrisnya suatu masa ketika tak ada penindasan diantara sesama, perempuan mendapatkan kembali kehormatannya, gurun di Saudi Arabia kembali menjadi belantara, peperangan tinggal sebagai legenda yang samar-samar, manusia rukun bercengkerama dengan bumi yang tak lain Ibundanya,
dan matahari terbit dari ufuk barat ?

: The God Must Be Crazy!



“Rika ura gelem ngakoni maring Nyong, Nyonge ra patheken, mbok!”, tiba-tiba saja Gusti Allah ngomel-ngomel di depanku. Ini sungguh tak biasanya.

“Lho-lho ada apa ini, kok njanur gunung Panjenengan muring-muring?” aku meminta klarifikasi.

“Kon kuwi lho, wis kurang apa ta awak-Ku sabar? Njaluk ora mandeg ambegan, wis Dak turuti, Kon mandeg rukun islam, ya Dak olehi. Kon nguculke rukun iman, Dak wawuhi. Karepe Kon piye ta?” masih ngomel Dia, dengan ganti nada Jawa Timuran yang jelas-jelas wagu therr.


“Lho, kalo urusan itu, ya salah Panjenengan sendiri tho? Wong sudah tahu konsepnya saya ini mbeling, kok ya Panjenengan masih saja mau cipta dan pelihara.” sanggahku.

“Diancuk! Kakekane! Trembelane tenan kok Nyothe. Poya puyub, Sacilat!” weh, sungguh tak terduga, aku buat Gusti misuh-misuh.

“Lha emangnye ade ape te, Gustine? Bener-bener meneketehe aye!” ku rayu dengan logat yang sama tak beresnya.

“Iki perkara nyamuk. Nyamuk-Ku, Nyuk!”

“Woo…ora sopan! Sakpenake dhewe nyeluk-nyeluk : Nyuk. Aku iki asu, Gus. Setidaknya dalam mata batinku. Memangnya ada apa dengan nyamuk Panjenengan?”

“Sadurunge kowe micek, mbok apakna nyamuk-Ku? Hayo ! Ngaku!”

“Oalah, cuma itu ta. Nyamuk Panjenengan itu nggriduhi, ngrusuhi kuping saya, jadi saya pithesi satu-satu, tuh masih ada bercak-bercak darah saya yang diisap mereka di sprei. Wah jan, nganeh-ngenahi saja Panjenengan ini, Maha Besar kok ngurusi urusan muaha kecuil kaya gini. Kehabisan proyek pa Gus, kok yang ecek-ecek rimih timih, Panjenengan embat juga?”

“Woo…cen Asu kok kowe !” Nah ini baru tepat, batinku, “nyamuk-Ku itu bukan urusan sepele, itu urusan maha besar juga, Su. Satu unit nyamuk ciptaanKu itu harga designnya teramat sangat mahal, tak sebanding dengan proyek nanoteknologi supermicrochipmu, atau megateknologi nuklirmu.”

“Lho, Panjenengan belajar desain juga to? Kejutan ini, Gus”

“Wis, rasah nyaruwuwus nggolek rai. Wis pas yen kowe ki asu, wong demen ndilat. Bali perkara nyamuk. Intine aku njaluk ijol. Telung iji wae, mewakili 3 spesies sing mbok pithes...” waduh, kali ini Beliaunya bener-bener mutung. Gak iso diwawuh.

“Hehehe…Gus. Panjenengan itu urik. Jelas saya tidak Panjenengan pinjami kuasa untuk mencipta segala sesuatu yang ‘bernyawa’, kok nuntut ganti penciptaan. Pinjami dulu saya kuasa itu, nanti baru kita bikin deal lagi, gimana?”

“Waaah, yo ora iso, Dab. Itu batas di antara Tuhan dan hamba, je. Apalagi Aku tau persis kamu tak bisa dipercaya, biaya sekolah dari Ndoro Fundingmu, si Henry Ford, yang jelas-jelas ada komitmen kontraknya saja kamu tilep buat advokasi para petani, apalagi pinjaman kekuasaanKu yang jelas-jelas akan Kupinjamkan tanpa mekanisme tertulis. Kamu jangan memanfaatkan gelarKu Yang Maha Pemurah. Ingat Aku Maha Tahu segala yang tersimpan dalam niat, bahkan sebelum terucap sebagai niat. Keparat !”

“Huu Gusti nggak fair. Nggak asoy !”

“Luweh ! pokoke Aku njaluk ganti.”

“Gini lho Gus, “, aku membuka negosiasi tanpa niat, sebab nanti akan ketahuan, “Gusti kan Maha Adil, jadi dengarkan dulu argumentasi saya, jangan main eksekusi tanpa proses pengadilan, dong. Macam ORBA aja…”

“Ya wis, apa argumenmu, Aku siap mendengarkan dengan seksama dan pura-pura tidak tahu apa-apa.”

“Sejak semula kan saya sudah bilang, bahwa nyamuk Panjenengan itu bener-bener mengganggu eksistensi saya sebagai sesama makhluk yang juga butuh hidup tenang. Saya rasa-rasanya belum pernah lho mengganggu tidur nyamuk-nyamuk Panjenengan itu dengan nguang-nguing tak karuan di samping telinganya, apalagi tega menggigit untuk menghisap darahnya. Gus lebih tahu itu. Lagipula, eksistensi itu kan hal yang paling esensi dari segala yang hidup, ya kan? Gus sendiri juga butuh diakui eksistensinya, dengan meminta setiap orang menyembah dan menyandarkan harapan dan ketakutan hanya pada Panjenengan, Ya to? Hayo Ngaku!”, goda saya.

“Teruske, sik” si Doi bersungut-sungut, ngambeg karena terkuak sisi lainNya.

“Nah, perkara eksistensi ini juga bukan perkara marginal, lho Gusti” saya berlagak menjelaskan, “ini perkara dahsyat, sebab ini menyangkut sesuatu yang sangat personal yaitu hakikat ADA, yang ujung-ujungnya melahirkan sikap penghargaan, minimal dengan tidak saling mengganggu. Gusti saja yang Maha segalanya tidak suka digugat eksistensi-Nya, ya sama juga dengan saya yang jelas bukan maha segalanya. Secara substansi Panjenengan boleh deh merasa different dengan saya, tapi secara ich, ego, saya rasa kok kita beda-beda tipis: Gusti merasa berkuasa, saya merasa tak berdaya.”

“Apa itu kemudian menjadi alasan bagimu menumpas nyamuk-nyamuk-Ku, Nyuk?”

“Weee lhha mbudeg pa ya? Super duper njelehi tenan kok Panjenengan, Gus. Sudah saya bilang jangan panggil saya, Nyuk. Maaf, mereka bilang saya (bukan) monyet! Nanti Panjenengan bisa saya tuntut untuk menyanyikan hymne kehambaan lho.”

“ Kowe muring, Su?”

“Ya jelas dong, ah. Asu kok dipanggil Nyuk. Sangat tidak kontekstual dan babar blas ora intelek.”

“ Yaw is, kali ini Aku minta maaf, tak akan Aku ulangi. Baru kali ini lho Tuhan meminta maaf pada hamba, kamu harus mencatat dalam sejarah sepanjang jaman atas kemaharendahan hati-Ku ini. Teruskan argumenmu, ndang.”

“OK, maaf diterima dengan lapang dada dan tanpa dendam. Cuma, maaf juga, saya enggan menuruti permintaan Gus, yaa dari dulu kan Gus tahu sendiri, saya ini dikonsep mbeling dan mbalelo. Jadi gini, Gus. Intinya, nyamuk-nyamuk Panjenengan itu sudah melanggar batas-batas kesusilaan seekor makhluk terhadap seorang makhluk lainnya. Jika Panjenengan memberi hukuman pada para penolak eksistensi Panjenengan dengan dosa tak terampunkan dan tak diwawuh sepanjang hidup Panjenengan, maka saya cukup bijak memberi hadiah berupa perjalanan pulang super cepat hingga tanpa sempat merasa sakit atau terperanjat, pulang ke haribaan Sang Kekasih para nyamuk-nyamuk itu. Bukankah Panjenengan cinta sama makhluk-makhluk itu sebagaimana makhluk-makhluk itu cinta sama Panjenengan? “

“Ya, bener kandhamu, Su. Tresna Nyong maring nyamuk-nyamuke-Nyong. Mereka yang paling bisa membuat hatiKu tentram dengan perutnya yang membuncit nan seksi itu, dari pada kamu dan para Yahudi itu.”

“Nah, cerdas. Eh Maha Cerdas maksud saya. Lha nek wis mudheng, berarti kan saya justru menjadi comblang maha percintaan to? Apa saya kemudian layak untuk mengganti dengan nyawa yang jelas kemampuan untuk itu tidak Panjenengan kasih ke saya?”

“Wis rampung, Su? Nek wis gentian Aku sik ngomong.”

“Ya, ngomongo, ngoceha sabejat-Mu.”

“Aku tak nyoba ngomong dengan sudut pandangmu ya? Dadi ngene, kamu tuh kan berbeda dengan makhluk manapun. Khas. Unik. Limited edition yang pernah Kubikin. The most amazing creation that I had ever created. The most distinctly different special species that had ever live in the space. Do you know why? Because you have one thing, only one thing: consciousness. Kesadaran yang mampu menggiringmu pada tindakan sadar. Tindakan sadar yang kamu manifestasikan dengan membuat pilihan, termasuk memilih untuk tidak tunduk padaKu. Yo ora?”

“He eh”

“Nha, ngene lho, Nyu… eh Su. Sebagai sesuatu yang berkesadaran, kan kamu bisa memilih sesuatu yang lebih bijak ketimbang membunuh, cobalah hargai kehidupan sampai batas waktu yang Kukehendaki dengan senang hati, bukan terpaksa Kukehendaki. Pertemuan denganKu itu memang didamba semua makhluk termasuk kamu, meski kamu malu untuk mengakui terang-terangan. Tapi hati-Ku ini perih lho, saat mereka yang seharusnya kembali dengan rela dan direlakan itu menjadi kembali dengan kondisi hati yang tidak semestinya. Ah, kamu seperti tak pernah ditolak orang yang kamu taksir setengah mati aja. Lara khan? You bisa bayangkan, Saya ini Maha melankolis dari sastrawan manapun. Ayat-ayat cintaKu lebih dahsyat dari yang pernah Habiburrahman bikin, makanya sengaja tak Aku publikasikan biar tak dikapitalisasi sama biang pembodohan Bani Punjabi.”

“Terus apa hubungannya dengan nyamuk-nyamuk Panjenengan yang kita perkarakan itu?”

“Wheela isih takon, ah, Kon iku pancen senengane tampil bodho, sok nggobloki. Nyamuk-Ku itu eksistensi-Ku. Kalo kamu menyakiti nyamuk-Ku berarti kamu menyakiti-Ku. Kamu harusnya bisa berempati dong, bagaimana rasanya ditinggal mati kekasih hati? Atau seperti yang kukatakan tadi, berkencan dengan orang yang sedang tidak mood. Rasanya ada yang hilang, ada yang ganjil. Bedanya antara Aku dan kamu, kamu itu tidak abadi, rasa ketidaklengkapanmu itu dapat tuntas dengan kematian. Kematian akan menjadi berkah bagimu karena ia menyelesaikan segala permasalahan hidupmu. Nah, kalo Aku? Aku ini mengutuk diriKu menjadi immortal, keabadian itu menyakitkan. The most unbearable wound that won’t seems to heal. Aku eksis, maka Aku pedih teriris-iris.” Waduh-waduh, kalo Gusti sudah curhat begini jadi repot. Saya jadi merasa iba.

“Apa kamu sanggup menanggung keabadian dari penderitaan yang tak tertahankan?” tanya-Nya.




 “Wah, sudah cukup bagiku jatuh sekali dan tak bangun lagi, Gusti.”

“Dan yang paling menyakitkan hati-Ku adalah kamu menganggap perkara nyamuk ini sebagai perkara sepele. Kamu setengah hati dalam menyikapi kehidupan, padahal kamu hidup. Kamu meremehkan setiap tetes air yang Kucurah-muncratkan dengan percuma dengan menjualnya, kamu menafikkan udara yang tanpanya kau tak bernyawa dengan mengotorinya dengan emisi-emisi mainan besimu, kamu membunuh bumi tempatmu berpijak dengan menambang dan menggundulinya, kamu melupakan bahwa ia adalah ibumu sendiri. Kamu yang Kuberkahi dengan rasa butuh teman justru membuangnya dengan sikap mementingkan diri sendiri, dan bukannya berbagi. Kamu tak sadar-sadar bahwa kepedihan dari kesendirian adalah ketika kebahagiaan tak bisa dibagi. Kamu ingin abadikan nafsumu, dan kamu tetep tak mau tahu: keabadian itu adalah tragedi kesepian tanpa akhir. Kamu ingin menjadi Aku yang kau kira bisa berbuat seenaknya dengan kekuasaan atas segala sesuatu. Kamu mengabaikan cinta-Ku…” Gusti ngomel tanpa henti, aku hanya duduk bersila, menikmati setiap hirup udara, menikmati setiap omelanNya dan bergumam getir dengan pelupuk mata yang membasah: hummmh namo amitaba, namo amitaba…

Rekomendasi

Comments (0)